Malaikat itu Bernama Ibu
Keriput di wajah nya tak bisa berbohong, bahwa kini beliau semakin menua. Usianya hampir 60 tahun. Namun, jika berbicara semangat dan giat nya dalam bekerja jangan ditanya, aku yang muda saja rasanya kalah jauh dari nya. Sering beliau bercerita tentang kehidupannya di masa kecil, yang sudah pasti jauh dari kata berleha - leha. Membeli aneka jajanan kering lalu memasukkan stiker di setiap kemasannya dan menjual nya kembali, membantu tetangga mengisi penuh bak mandi mereka dengan upah Lima Rupiah, menjaga anak tetangga dengan imbalan upah sepiring nasi ataupun sejumlah uang. Juga tentang terbatas nya alat sekolah atau malu nya beliau saat namanya selalu dipanggil keras-keras karena menunggak uang SPP. Semua selalu diceritakannya dengan mata berbinar. Ada sedih dan bangga bercampur di mata nya yang sulit dijelaskan. Selalu, setiap beliau bercerita. Selepas SMP beliau merantau ke Kota. Tinggal bersama kakak nya lain Ibu. Hanya sebentar untuk kemudian ikut tinggal b...