Terlahir menjadi tunggal seringkali terlihat menyenangkan. Tentang perlakuan dimanja orang tua yang mutlak dinikmati sendiri, bisa sesuka hati menguasai barang-barang di rumah tanpa saingan, sampai hal receh seperti tak adanya momen berebut makanan dengan saudara. Namun, akan lain ceritanya jika terlahir menjadi tunggal pada orang tua tunggal. Ya, Bapak meninggal dunia ketika aku berumur 6 tahun di usia 7 tahun pernikahan Bapak dan Ibu. Saat kecil dulu memang aku begitu dimanja, bukan hanya sama Bapak dan Ibu namun juga sama saudara-saudara yang kebetulan saat itu ikut tinggal di rumah kami. Walaupun Bapak juga bukan orang berada, tapi aku merasa tidak kekurangan suatu apapun. Entah apakah dapur Ibu tetap lancar mengepul tiap harinya kala itu, yang jelas aku masih bisa menikmati es krim setiap harinya di saat Bapak pulang kerja. Hingga semua nya harus berubah saat Bapak meninggal. Pagi itu beliau berpulang dalam keadaan seperti sedang...
Kisah ini nyata, dengan sedikit bumbu. Nama dan tempat disamarkan. Aku sudah cukup lama mengenal nya, sebut saja dia Senja. Pertemanan yang unik menurutku, karena banyak kesamaan di antara kami. Meski sudah cukup lama kita berteman, namun tak sekalipun dia pernah bercerita tentang masa lalu nya. Sebuah cerita kelam. Yang selama ini berusaha dia kubur dalam-dalam. Karena bagi nya, membuka nya kembali hanya membuat luka nya kembali bernanah. Namun, ntah bagaimana, beberapa hari yang lalu kami sampai pada obrolan tentang masa lalu nya. Dengan ditemani dua cangkir gelas kopi -minuman favorit- kami berdua, dia mulai menuturkan kisahnya.. Semua nya berawal saat aku mulai duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku berpacaran dengan seorang cowok, Raja namanya. Ganteng, tinggi, putih, salah satu cowok idaman teman-teman cewek di sekolah. Awalnya kita berpacaran secara sehat, sampai dimana suatu hari kita ditugaskan untuk menjadi pendamping...
Keriput di wajah nya tak bisa berbohong, bahwa kini beliau semakin menua. Usianya hampir 60 tahun. Namun, jika berbicara semangat dan giat nya dalam bekerja jangan ditanya, aku yang muda saja rasanya kalah jauh dari nya. Sering beliau bercerita tentang kehidupannya di masa kecil, yang sudah pasti jauh dari kata berleha - leha. Membeli aneka jajanan kering lalu memasukkan stiker di setiap kemasannya dan menjual nya kembali, membantu tetangga mengisi penuh bak mandi mereka dengan upah Lima Rupiah, menjaga anak tetangga dengan imbalan upah sepiring nasi ataupun sejumlah uang. Juga tentang terbatas nya alat sekolah atau malu nya beliau saat namanya selalu dipanggil keras-keras karena menunggak uang SPP. Semua selalu diceritakannya dengan mata berbinar. Ada sedih dan bangga bercampur di mata nya yang sulit dijelaskan. Selalu, setiap beliau bercerita. Selepas SMP beliau merantau ke Kota. Tinggal bersama kakak nya lain Ibu. Hanya sebentar untuk kemudian ikut tinggal b...
Komentar
Posting Komentar